Wednesday, March 26, 2014

Kesehatan Mental (Tugas 1)

1.    Pengantar
A.   Orientasi Kesehatan Mental
Beberapa ahli mengemukakan orientasi umum dan pola-pola wawasan kesehatan mental, yang terbagi menjadi tiga orientasi, yaitu :
1)      Orientasi Klasik
Orientasi klasik ini banyak digunakan dalam dunia kedokteran, termasuk psikiatri. Menurut pandangan orientasi klasik, individu yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “perasaan tak sehat”, serta mengganggu efisiensi dan efektifitas kegiatan sehari-hari. Individu yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan secara fisik dan mental. Sehat fisik merujuk pada tidak adanya keluhan secara fisik, dan sehat mental merujuk pada tidak adanya keluhan secara mental.
2)        Orientasi Penyesuaian Diri
Pandangan yang digunakan sebagai landasan orientasi penyesuaian diri adalah pendekatan yang menegaskan bahwa manusia pada umumnya adalah makhluk yang sehat secara mental. Dengan pandangan ini penentuan sehat atau sakit mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Selain itu, berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi kepribadian individu secara utuh. Penentuan derajat kesehatan mental bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan individu dalam lingkungannya. Kesehatan mental seseorang sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat dimana individu hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian sosialnya.
Kesehatan mental merupakan kemampuan individu untuk secara aktif menyesuaikan diri sesuai tuntutan kenyataan di sekitarnya, yang merujuk pada tuntutan yang berasal dari masyarakat yang secara konkret mewujud dalam tuntutan orang-orang yang ada di sekitarnya. Penyesuaian diri ini tidak mengakibatkan perubahan kepribadian, stabilitas diri tetap terjaga, dan tetap memiliki otonomi diri. Individu dapat menerima apa yang ia anggap baik dan menolak apa yang ia anggap buruk berdasarkan pegangan normatif yang ia miliki. Individu yang sehat akan melihat realitas terhadap masalah yang dihadapinya dan bagaimana kondisi dirinya berkaitan dengan masalah itu sebelum menentukan tindakan yang akan diambil. Individu yang sehat memiliki kemampuan memahami realitas internal dan eksternal dirinya. Ia tidak bereaksi secara mekanik atau kompulsif-repetitif tetapi merespons secara realistis dan berorientasi pada masalah.
3)      Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap dapat berkembang secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan disekitarnya. Individu dianggap mencapai taraf kesehatan mental, bila ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.
Individu yang sehat mental adalah individu yang dapat dan mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk kegiatan yang positif-konstruktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. Pemanfaatan dan pengembangan potensi ini dapat dipergunakan dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari.

B.   Konsep Sehat
Konsep sehat dan kesehatan merupakan dua hal yang hampir sama tapi berbeda. Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya. Sementara menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
Beberapa abad yang lalu, sehat diartikan sebagai suatu kondisi yang normal dan alami sehingga suatu kondisi yang tidak normal dan bertentangan dengan alam dianggap tidak sehat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengembangkan defenisi tentang sehat. Pada sebuah publikasi WHO tahun 1957, konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan bahwa Sehat adalah keadaan sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.

C.   Sejarah Perkembangan
Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri. Mereka mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental. Jadilah manusia yang dengan rasa putus asa selalu berusaha untuk menjelaskan tentang penyakit mental. Dengan kesehatan mental ini kita dapat bandingkan dengan mata uang yang mempunyai dua sisi yang di sisi satunya sakit dan yang di sisi satunya lagi sehat. Di sisi ini dapat dilihat kemungkinan di kedua sisi itu kira kira 50:50.
Perlu diketahui disini sejarah tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi mengenai penyakit mental dan cara menghilangkannya. Hal ini disebabkan oleh dua alasan , yaitu Sifat dari masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya menjadi merasa ketakutan; Perkembangan semua ilmu pengetahuan begitu lambat , dan banyak kemajuan yang sangat penting. Pada masa awal awal orang yang sakit mental dapat dipahami secara keseluruhan sering diperlakukan dengan kurang baik. Di jaman prasejarah pun manusia purba sering kali mengalami gangguan mental baik fisik maupun gangguan yang baik. Di jaman prasejarah ini juga terdapat perawatan-perawatan untuk penyakit gangguan mental yaitu : menggosok,menjilat,mengisap dan memotong.
Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karna masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hiduo bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang biasa bukan lagi sebagai gangguan.

2.    Teori Kepribadian Sehat
A.   Aliran Psikoanalisa
Teori psikoanalisa menelaah kepribadian pribadi motif motif tak sadar yang mengarah perilaku. Teori psikoanalisa membahas perkembangan kepribadian. Freud membandingkan pikiran manusia dengan gunung es. Bagian kecil yang tampak si atas permukaan air menggambarkan pengalaman sadar; bagian yang lebih besar di bawah permukaan air menggambarkan ketidaksadaran gudang impuls, nafsu, ingatan yang tidak terjangkau, yang mempengaruhi pikiran dan perilaku. Bagian ketidaksadaran psike inilah yang berusaha diselidiki Freud melalui tekhnik asosiasi bebas, yang menghendaki orang menyatakan hal-hal yang muncul dalam kesadarannya, tidak peduli apakah hal itu tampak memalukan atau tampak tidak ada artinya. Dengan menganalisis asosiasi bebas, termasuk ingatan tentang mimpi dan kenangan masa kanak-kanak awal, Freud berusaha mambantu pasiennya menyadari hal-hal yang tidak disadari dang dengan cara demikian menemukan faktor penentu utama kepribadian.
Freud yakin bahwa kepribadian tersusun dari tiga sistem utama: Id, Ego, Superego.
1)      Id: merupakan bagian yang paling primitive, yang sudah ada sejak lahir. Dari Id inilah ego dan superego berkembang. Id terdiri dari impuls (dorongan) biologis dasar, seperti kebutuhan makan, minum, buang air, menghindari rasa sakit, dan memperoleh kenikmatan seksual.
2)      Ego: mengikuti prinsip realitas pemuasan impuls harus di tunda sampai ditemukan kondisi lingkungan yang tepat. Misalnya dengan mempertimbangkan dunia nyata, ego menunda pemuasan impuls seksual sampai diperoleh kondisi yang tepat. Pada dasarnya, ego merupakan badan eksekuif kepribadian yang menetapkan tindakan apa yang tepat, impuls id mana yang akan dipuaskan, dan cara pemuasan apa yang akan dilakukan. Ego menjadi penegah antara tuntutan id, realitas lingkungan dan tuntutan superego.
3)      Superego: gambaran internalisasi nilai dan moral masyarakat yang diajarkan orangtua dan orang lain pada anak. Pada dasarnya superego merupakan hati nurani seseorang. Superego menilai apakah suatu tindakan benar atau salah. Id cari kesenangan, ego menguji realitas, dan superego berusaha menjadi sempurna. Superego berkembang sebagai respons terhadap ganjaran dan hukuman orangtua.

B.   Aliran Humanistik
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi kebutuhannya.
Humanistik menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli-ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif yang secara potensial menghambat.
Gambaran ahli psikologi humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. 
C.   Pendapat Fromm
Menurut Erich Fromm, manusia adalah makhluk sosial. Berdasarkan pada pendapat tersebut, maka salah satu ciri pribadi yang sehat berarti adanya kemampuan untuk hidup dalam masyarakat sosial.
Menurut Fromm, ada lima watak sosial di dalam masyarakat: Penerimaan (receptive), Penimbunan (hoarding), Penjualan/pemasaran (marketing), Penghisapan/pemerasan (exploitative), Produktif (productive).
Dari kelima watak sosial ini yang benar-benar tepat dan sehat hanyalah watak produktif karena watak produktif didorong oleh cinta dan akal budi dan dapat membantu perkembangan dan pertumbuhan pribadi dan masyarakat. Masyarakat yang baik perlu ditopang dengan cinta. Oleh karena itu, Fromm menyebutkan 5 tipe yang berbeda tentang cinta, yaitu: cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotik, cinta diri, dan cinta illahi.
Menurut Fromm, cinta sangat penting untuk membangun dunia yang lebih baik sebab yang dicari setiap orang di dalam masyarakat bukan penderitaan. Jadi menurut Fromm, pribadi yang sehat adalah pribadi yang mampu hidup dalam masyarakat sosial yang ditandai dengan hubungan-hubungan yang manusiawi, diwarnai oleh solidaritas penuh cinta dan tidak saling merusak atau menyingkirkan satu dengan lainnya.
Penyesuaian Diri
1.     Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki respons emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.
Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai. Penyesuaian yang terjadi jika manusia/individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirnya dengan lingkungannya dimana tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan dimana semua fungsi organisme/individu berjalan normal. Sekali lagi, bahwa penyesuaian yang sempurna itu tidak pernah dapat dicapai. Karena itu penyesuaian diri lebih bersifat sutau proses sepanjang hayat (lifelong process), dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat. Respons penyesuaian, baik atau buruk, secara sederhana dapat dipandang sebagai sutau upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan sutau proses kearah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari tegangan. Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.
Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Dalam hubungannya dengan rintangan-rintangan tersebut ada individu-individu yang dapat melakukan penyesuaian diri secara positif, namun adapula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang salah. Berikut ini akan ditinjau karakteristik penyesuaian diri yang positif dan penyesuaian diri yang salah.
Sumber :
Schultz, Duane.1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian

Friday, December 27, 2013

Pendapat Tentang Jurnal Online Identity


IDENTITAS PEREMPUAN DALAM SOCIAL MEDIA
(Studi Analisis Wacana Konstruksi Identitas Online Perempuan Dewasa Awal dalam Situs Jejaring Sosial Facebook)
            Dalam jurnal mengenai Identitas Perempuan dalam Social Media, penulis lebih terfokus pada salah satu Social Media yang sangat populer yaitu Facebook. Penulis menggunakan metode analisis wacana sebagai pendekatan analisis yaitu metode analisis wacana Teun Van Dijk. Peneliti menggunakan Facebook untuk mencari beberapa informan, memperoleh informasi dari wawancara mendalam dengan informan dan menganalisa dari berbagai sudut pandang untuk mengetahui online identity peranan perempuan dewasa (informan/pemilik akun Facebook) di Facebook. Tabel penyajian data informan terdiri dari nama informan, pesan dalam update status, profil yang ditampilkan berdasarkan peran, presentasi diri perempuan. Beberapa hal yang diperhatikan dalam penelitian, yaitu:
 1. Segi teks dalam profil Facebook
Setidaknya ada lima jenis pesan teks yang disampaikan pengguna Facebook, yaitu curahan hati; aktivitas atau kegiatan yang dilakukan; emosi; hiburan dan informasi.
2. Faktor-faktor pendorong
Penulis jurnal ini menemukan dua faktor yang yang mempengaruhi permaianan identitas, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
3. Identitas Online dan Identitas Offline
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa Social Media sudah menjadi bagian terpenting dari kehidupan manusia di seluruh dunia saat ini. Dengan adanya internet dan smartphone lebih memudahkan manusia untuk mengakses Social Media dimanapun dan kapanpun. Dengan mudahnya setiap manusia bisa meng-update status dan mengunggah foto ke Social Media yang dimiliki atau lebih khususnya pada Facebook yang sedang kita bahas.
Menurut pendapat saya, isi dari jurnal ini menarik karena mengambil judul yang sesuai dengan kehidupan manusia dalam menggunakan Facebook saat ini. Banyak orang yang menggunakan Facebook dan ada permainan identitas di dalamnya. Identitas yang ditampilkan dalam Facebook (khususnya perempuan dewasa awal) merupakan bagian dari sisi kehidupan di dunia nyata. Terkadang banyak juga perempuan dewasa awal yang menampilkan sisi baik dalam identitas online walaupun tidak sesuai dengan dirinya, ini dilakukan untuk pencitraan diri yang baik dihadapan orang-orang. Akan lebih baik jika Social Media (Facebook) digunakan untuk berbagi informasi yang bermanfaat bagi banyak orang walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak juga yang menggunakan Facebook untuk meluapkan emosi yang seharusnya tidak disampaikan di Social Media karena dapat memancing permasalahan akibat tutur kata yang ditulis.
Sumber :

Monday, October 7, 2013

Psikotes Secara Online di Internet


1.     Pendahuluan
Zaman modern seperti sekarang ini, perkembangan teknologi telah berkembang dengan pesat. Salah satu perkembangan teknologi yang sangat berperan atau sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia adalah Internet. Dengan adanya internet, kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang kita butuhkan dan juga dapat melakukan komunikasi dengan mudah serta dengan cara yang instan.
Sekarang ini sudah banyak bermunculan situs untuk tes psikologi yang ada di internet. Dengan adanya tes psikologi di internet, kita dapat dengan mudahnya mengetahui sejauh mana kemampuan yang kita miliki dengan mengikuti tes tersebut. Selain untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki, kita juga bisa mempelajari contoh soal psikotes untuk menghadapi tes psikologi dan juga dapat mengetahui strategi atau tips & trik untuk mengerjakan soal psikotes.
2. Teori
Tes psikologi atau psikotes adalah tes untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tes psikologi atau psikotes juga sering disebut dengan TPA (Tes Potensi Akademik). Pengertian tes psikologi lainnya, Psikotes adalah salah satu bentuk tes atau model tes yang digunakan untuk menyaring mahasiswa baru atau calon pegawai. Bertujuan untuk mengetahui kecakapan dan wawasan akademis yang wajib dimiliki oleh peserta tes.
Psikotes juga dapat digunakan untuk mengetahui jati diri (kemampuan, bakat, minat, motivasi, dan lain-lain) secara dini serta dapat mengetahui IQ (Intelligence Quotient) yang dimiliki. Dengan mengetahui jati diri secara dini, seseorang akan dengan mudah menentukan tujuan hidup untuk kedepannya.
Soal-soal yang ada pada tes psikologi meliputi beberapa bagian utama,, seperti dibawah ini:
a.   Tes Kemampuan Verbal, meliputi tes persamaan kata (sinonim), tes lawan kata (antonim), tes padanan kata (similariti), tes hubungan kata (analogi) 
b.  Tes Kemempuann Kuantitatif, meliputi tes numerik (deret angka), konsep aljabar, tes logika matematika, tes matematika berpola 
c.     Tes Penalaran, meliputi penalaran logis dan penalaran analitik
d. Tes Gambar, meliputi klasifikasi gambar, pemikiran perseptual, pandang ruang, tes visualisasi
e.   Tes Kepribadian Grafis, meliputi tes wartegg, tes DAP (Draw A Person), tes baum tree atau tes HTP (House Tree Person)
f.       Tes Kepribadian Kuisioner, meliputi tes efektifitas diri, tes EPPS, tes MBTI, tes MAPP, tes koran pauli, tes ketelitian, tes kerjasama, tes potensi sukses
Dibawah ini merupakan beberapa contoh soal psikologi yang ada di internet, yang dapat kita gunakan kapan saja:
a.       Tes Analogi
Dalam situs ini, kita dapat berlatih untuk mengerjakan salah satu contoh soal psikologi dan dapat mengetahui hasilnya.
Untuk mengikuti latihan soal psikologi ini, anda dapat mengunjungi http://bursa-kerja.ptkpt.net/_karir.php?_karir=contoh-psikotes-1
b.      Tes Deret

Dalam situs ini, kita dapat berlatih untuk mengerjakan salah satu contoh soal psikologi dan dapat mengetahui hasilnya.
Untuk mengikuti latihan soal psikologi ini, anda dapat mengunjungi http://belajar-online.ptkpt.net/_karir.php?_karir=contoh-psikotes-3
c.       Tes Penalaran Logis
Dalam situs ini, kita dapat berlatih untuk mengerjakan salah satu contoh soal psikologi dan dapat mengetahui hasilnya.
Untuk mengikuti latihan soal psikologi ini, anda dapat mengunjungi http://bursa-kerja.ptkpt.net/_karir.php?_karir=contoh-psikotes-7-penalaran-logis2
d.      Tes Gambar

e.       Tes Wartegg
f.       Tes MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)

Dalam situs ini kita dapat mengetahui kepribadian kita dengan mengisi kuisioner dalam situs ini. Anda dapat mengunjungi http://azulkiflidaido.blogspot.com/2010/11/test-kepribadian-02-mbti-oleh-zulkifli.html
Selain keenam tes psikologi diatas, anda juga dapat mengukur sejauh mana IQ (Intellegence Quotient) yang kita miliki dengan mengunjungi situs http://iqtest.dk/main.swf
3.  Analisis
Dari sekian banyak situs-situs yang menyediakan tes psikologi secara online, sebenarnya sebagian situs-situs tersebut ada hanya untuk latihan mengerjakan soal psikologi yang kemudian akan diterapkan pada tes psikologi yang sesungguhnya atau secara langsung (tidak melalui internet).
Untuk tes psikologi yang ada di internet sebaiknya hanya digunakan untuk berlatih karena dapat menjadi acuan kita dalam mengerjakan tes psikologi yang sebenarnya. Jika anda benar-benar ingin mengetahui sejauh mana kemampuan anda, sebaiknya anda mengikuti tes psikologi yang sebenarnya agar hasil yang anda dapatkan bisa dipertanggungjawabkan oleh pihak yang menyelenggarakan tes psikologi tersebut dan tes psikologi yang kita kerjakan diperikasa langsung oleh psikolog serta dapat mengetahui minat dan bakat yang kita miliki.
Jadi, pada akhirnya jika anda ingin mengikuti tes psikologi maka ikutilah tes psikologi yang resmi diadakan oleh Lembaga Psikologi. Jika anda hanya ingin sekedar latihan untuk mengikuti tes psikologi, cobalah kerjakan soal tes psikologi yang ada di internet.
4.   Referensi
Martono. H, 2011, Referensi Sukses Lulus TPA, Jakarta : Penerbit Raya
http://www.ssantsons.com/psikotes.html